Korelasi Log Sumur

Pengertian

Korelasi ialah penghubungan titik-titik kesamaan waktu atau penghubungan satuan-satuan stratigrafi dengan mempertimbangkan kesamaan waktu (Sandi Stratigrafi Indonesia, 1996).
Menurut North American Stratigraphy Code (1983) ada tiga macam prinsip dari korelasi, yaitu :
  • Litokorelasi, yang menghubungkan unit yang sama pada litologi dan posisi stratigrafinya.
  • Biokorelasi, yang secara cepat menyamakan fosil dan posisi biostratigrafinya.
  • Kronokorelasi, yang secara cepat menyesuaikan umur dan posisi kronostratigrafi.

Log adalah suatu terminologi yang secara original mengacu pada hubungan nilai dengan kedalaman, yang diambil dari pengamatan kembali (mudlog). Sekarang itu diambil sebagai suatu pernyataan untuk semua pengukuran kedalam lubang sumur (Mastoadji, 2007)


Tahap Korelasi Log Sumur

1. Penyamaan Datum (Flatten)
2. Korelasi Lapisan Reservoir
3. Kalibrasi Dengan Penampang Seismik (Well Seismic Tie)


Penjelasan :

1. Penyamaan Datum (Flatten)

      Tahap awal dalam melakukan korelasi suatu unit stratigrafi terlebih dahulu kita harus menyamakan datum yang akan dipakai (Di-flatten pada satu datum), datum yang dipakai harus sama antara satu sumur dengan sumur lainnya supaya sumur dapat dikorelasikan. Datum merupakan suatu kesamaan data yang dimiliki oleh semua sumur yang akan dikorelasikan, datum tersebut dapat berupa kedalaman (depth) lapisan maupun kesamaan waktu geologi yang dikontrol oleh dinamika muka air laut (principal of stratigraphic sequence) dalam hal ini yang biasa dipakai adalah Maximum Flooding Surface (MFS), Unconformity (UC) / Sequence Boundary (SB). Maximum flooding surface dapat teridentifikasi oleh adanya maximum landward onlap dari lapisan marine pada batas basin dan kenaikan maksimum secara relatif dari sea level (Armentout, 1991), MFS biasanya ditunjukan oleh adanya akumulasi shale yang melimpah yang merupakan amplitude dari log pada daerah shale (High gamma ray), akan tetapi pada kondisi litologi berupa batugamping terumbu (Reef Carbonate) MFS biasanya ditandai oleh pertumbuhan gamping yang optimal pada saat genang laut sehingga datum yang dipakai yaitu pada zona reservoir (low gamma ray) yaitu kondisi dimana log gamma ray menunjukan akumulasi batugamping yang sangat melimpah.
      Unconformity merupakan suatu jeda pengendapan (hiatus) yang terjadi pada kondisi diatas muka air laut (Sub aerial) yang biasanya ditunjukan oleh perubahan drastis dari fining upward menjadi coarsening upward atau sebaliknya, sebagian ahli menyamakan antara sequence boundary dengan unconformity, sedangkan pengertian sequence boundary sendiri merupakan batas atas dan bawah satuan sikuen stratigrafi yang berupa bidang ketidakselarasan atau bidang-bidang keselarasan padanannya (Sandi Stratigrafi Indonesia, 1996).
Kandidat squence boundary (SB) dan maximum flooding surface (MFS)

      Masing-masing flatten dalam korelasi stratigrafi memiliki fungsi yang berbeda, untuk mengetahui deformasi struktur geologi yang telah terjadi sepanjang waktu geologi kita dapat melakukan flatten pada kedalaman (depth) yang sama pada masing-masing sumur dimana dalam flatten ini kondisi stratigrafi yang diamati adalah kondisi pada saat ini (setelah terdeformasi), korelasi ini dinamakan dengan korelasi struktur. Sedangkan untuk melihat distribusi reservoir dan gejala sedimentasi dengan baik kita dapat melakukan flatten pada salah satu datum sikuen stratigrafi umumnya pada Maximun Flooding Surface (FS), korelasi ini dinamakan dengan korelasi stratigrafi.

Flatten pada maximum flooding surface (MFS)
Flatten pada kedalaman (depth)


2. Korelasi Lapisan Reservoir

      Prinsip dari korelasi stratigrafi adalah untuk menyamakan umur suatu lapisan sejenis dalam satu sumur dengan sumur lainnya, karena dalam hal ini korelasi digunakan untuk kepentingan eksplorasi minyak dan gas bumi maka korelasi perlu dikombinasikan antara kronokorelasi (menggunakan prinsip sikuen stratigrafi) dan litokorelasi. Biasanya lapisan yang dikorelasikan adalah lapisan reservoir baik itu sandstone maupun limestone karena lapisan inilah yang memungkinkan untuk menyimpan dan mengalirkan hidrokarbon dalam jumlah yang ekonomis.
      Untuk mengetahui kesamaan lapisan tersebut kita dapat membaca pola dari log sumur baik itu log gamma ray, resistivity, neutron, density maupun photoelectric dan juga bila perlu dikalibrasi dengan data sampel cutting dan side wall core untuk mendapatkan hasil yang lebih akurat. Lapisan dengan litologi sejenis dan memiliki umur geologi yang sama diasumsikan akan menghasilkan pola kurva log yang sama ketika dideteksi oleh logging tools sehingga kesamaan pada masing-masing sumur tersebut dapat ditarik garis korelasi.
      Setelah menggantung log pada datum kedalaman (depth) maupun sikuen stratigrafi (MFS, SB/UC) selanjutnya kita dapat dengan mudah melakukan korelasi lapisan pada masing-masing sumur, korelasi dapat dilakukan dengan melihat litologi penciri pada masing-masing sumur misalnya batubara (coal), dapat juga dilakukan dengan membaca pola log gamma ray, log ini membaca kandungan radioaktif pada batuan dimana semakin tinggi kandungan radioaktifnya maka log gamma ray akan menunjukan nilai yang tinggi. Gamma ray dengan nilai yang tinggi biasanya mencirikan litologi berbutir halus (shaly) sedangkan gamma ray dengan harga yang rendah biasanya menunjukan litologi berupa reservoir baik itu sandstone maupun limestone, akan tetapi dalam kondisi lapangan tertentu juga ditemukan high gamma ray sand dimana lapisan sandstone banyak mengandung mineral feldspar sehingga kurva log gamma ray akan menunjukan defleksi nilai yang tinggi disebabkan oleh mineral feldspar yang bersifat radioaktif (Terutama Potassium), untuk itu dalam penentuan zona reservoir kita juga harus membaca log lain dan di kalibrasi dengan sampel cutting dan side wall core.
      Ada beberapa pola pada log gamma ray yang dapat digunakan sebagai acuan untuk mempermudah dalam korelasi diantaranya pola bell shape, funnel, symmetric, irregular dan blocky/boxcar seperti yang ditunjukan oleh gambar dibawah. Pola-pola tersebut menunjukan gejala sedimentasi yang berbeda dimana faktor yang mempengaruhi gejala sedimentasi tersebut dikontrol oleh suplai sedimen, ruang akomodasi, perubahan muka air laut dan subsiden. Pola-pola log tersebut juga dapat menunjukan perbedaan fasies dan lingkungan pengendapan yang dikenal dengan istilah elektrofasies.
Pola log gamma ray
      Setelah membaca kesamaan pola pada log gamma ray kita juga harus membaca pada log resistivity, log ini membaca nilai resistivitas dari suatu fluida pada lapisan batuan sehingga jika kandungan fluidanya sama maka log resistivitasnya akan menunjukan harga yang sama, akan tetapi pada suatu reservoir sering kali kandungan fluidanya berbeda dikarenakan adanya perbedaan hydrocarbon to water contact yang biasanya dikontrol oleh sistem jebakan hidrokarbon, kasus ini sering terjadi pada lapisan antiklin dimana pada lapisan puncak antiklin akan terbaca sebagai hidrokarbon yang menunjukan resistivitas tinggi dan semakin rendah akan terbaca sebagai water yang memiliki resistivitas rendah.
      Pembacaan pada log neutron dan density juga tidak kalah pentingnya, log neutron akan membaca Hydrogen Index yang terkandung dalam batuan dengan menembakan neutron kedalam formasi, dimana semakin tinggi kandungan hidrogennya maka neutron yang dipantulkan kembali kedalam logging tools akan semakin sedikit (log neutron menunjukan nilai yang rendah) dan sebaliknya ketika kandungan hidrogen pada formasi sedikit maka jumlah neutron yang dipantulkan kembali kedalam logging tools akan semakin banyak (log neutron menunjukan nilai yang tinggi).
      Log density merupakan log yang membaca fungsi dari densitas batuan, prinsip dari log ini adalah dengan menembakan sinar gamma kedalam formasi, sinar gamma tersebut akan menendang elektron keluar dan ditangkap oleh detektor dalam logging tools, banyaknya jumlah elektron yang ditangkap oleh detektor merupakan fungsi dari nilai densitas formasi (semakin banyak elektron yang ditangkap maka semakin tinggi densitas formasi dan sebaliknya).
      Ketika dikombinasikan dengan interval skala yang berlawanan maka log neutron dan density dapat digunakan untuk mendeteksi adanya kandungan hidrokarbon yang ditunjukan oleh adanya cross over (butterfly effect), akan tetapi kita perlu berhati-hati dalam mengkorelasikan hidrokarbon karena belum tentu lapisan yang sama akan menunjukan adanya kandungan hidrokarbon yang serupa yang disebabkan oleh hydrocarbon to water contact. Setelah diidentifikasi kesamaan pada kurva log masing-masing sumur maka kita dapat menarik garis korelasi pada top formasi untuk sedimen silisiklastik dan pada base formasi untuk reef carbonate.
Hydrocarbon to water contact pada reservoir yang sama

3. Kalibrasi Dengan Penampang Seismik (Well Seismic Tie)

      Setelah diketahui lapisan-lapisan yang diasumsikan sejenis dan seumur, dalam korelasi log kita juga perlu mengkalibrasi data tersebut dengan data seismik yang telah di lakukan picking horizon. Hal yang perlu diingat adalah seimik merupakan fungsi dari waktu (Time) dan well log adalah fungsi dari kedalaman (depth dalam feet/meter) sehingga kita perlu mengkonversi terlebih dahulu fungsi dari kedalaman terhadap waktu. Well Seismic berfungsi untuk melihat sebaran lapisan dan struktur geologi yang mendeformasi lapisan tersebut sehingga dapat dikoreksi apakah lapisan yang diasumsikan berada pada satu horizon yang sama pada penampang seimsik atau tidak, apabila ternyata lapisan yang diasumsikan berbeda horizon atau lapisan terputus maka kita harus mereview kembali hasil korelasi log kita sampai hasil korelasi log kita match dengan horizon pada penampang seismik.
Well seismic tie




Sumber :
Anonime. Oil Fields in Illinois. (http://crystal.isgs.uiuc.edu) [Diakses pada 7 Nopember, 2014
Boggs, S. Jr. 1987. Principles of Sedimentary and Stratigraphy. Merril Publishing Company, Columbus.
Cant, D.J. 1992. Subsurface facies analysis. In Facies Models: Response to Sea level Change (Walker, R.G.; James, N.P.; editors). Geological Association of Canada, p. 195-218
Mastoadji, E.. Kristanto. 2007. Basic Well Log Interpretation, Handout of AAPG SC UNDIP Course.
North American Stratigraphy Code, 1983
Posamentier, H.W., Allen, G.P., 1999, Siliciclastic sequence stratigraphy: concepts and applications. SEPM Concepts in Sedimentology and Paleontology no. 7, 209 p.

Sandi Stratigrafi Indonesia, 1996


*) Laporkan bila ada kerusakan link atau kesalahan pada penulisan mohon beritahu kami melalui menu Kontak